Sebagai orang tua, lo pasti inget deg-degan waktu rapor dibagi. Angka itu kayak vonis, ya. Tapi gimana kalo vonisnya diganti? Dengan sesuatu yang lebih “manusiawi”: portofolio digital.
Nggak ada lagi angka 6 atau 8. Tapi ada video presentasi, foto proyek sains, rekaman diskusi kelompok, bahkan blog pribadi siswa. Ide awalnya bagus: nilai bukan cuma dari ujian, tapi dari proses. Anak jadi lebih percaya diri karena keunikannya dilihat.
Tapi, apa benar sesederhana itu? Atau kita cuma mengganti monster angka dengan monster baru: tekanan untuk selalu tampil sempurna di depan kamera?
Kenyataannya di lapangan, nggak semulus teori.
- “Kurasi Orang Tua” yang Bikin Portofolio Jadi Fiksi: Portofolio Ani, kelas 5 SD, keren banget. Videonya edit rapih, presentasinya lancar banget. Tapi guru tahu: itu direkam 15 kali sampai sempurna, disusun kata-kata oleh ibunya, dan diedit pakai software profesional. Yang dinilai bukan kemampuan Ani, tapi kemampuan editing orang tuanya. Portofolio digital jadi ajang pamer orang tua, bukan cerminan jujur si anak. Stresnya pindah, dari anak ke ortu, lalu balik lagi ke anak yang harus memenuhi ekspektasi versi “sempurna” itu.
- Platform yang Jadi Ajang “Perbandingan” Tanpa Henti: Dulu, lo cuma tau ranking lo di kelas. Sekarang, lo bisa scroll seluruh portofolio 40 teman sekelas di platform sekolah. Lihat karya mereka yang wah. Ini bikin kepercayaan diri anak yang karya biasa aja, atau yang prosesnya berantakan tapi meaningful, jadi tambah anjlok. Mereka ngerasa nggak cukup. “Digital footprint” mereka terasa kurang cemerlang.
- Guru yang Tenggelam dalam “Administrasi Digital”: Bayangin guru harus nge-review bukan cuma 40 lembar ujian, tapi 40 akun portofolio yang berisi puluhan entri video, gambar, dan tulisan. Memberi komentar yang personal dan bermakna di setiap entri. Beban kerjanya meledak. Sistem evaluasi baru ini maksudnya mengurangi beban angka, tapi malah menambah beban kurasi yang jauh lebih subjektif dan memakan waktu.
Data dari pilot project di 50 sekolah (fiktif tapi realistis) tahun 2025: 65% siswa merasa lebih “dilihat” dan dihargai prosesnya. Tapi, 58% orang tua mengaku merasa stress tambahan untuk “membantu” (baca: mengarahkan dan mengkurasi) portofolio anak mereka. Dan 70% guru melaporkan waktu kerja mereka untuk penilaian bertambah rata-rata 5 jam per minggu.
Lalu, gimana kita menyikapinya? Ini tips buat orang tua:
- Jadilah Pendukung, Bukan Kurator: Tugas kita adalah menyediakan alat dan ruang, bukan jadi sutradara. Biarkan anak yang ambil gambar videonya sendiri, yang nulis caption-nya. Biarkan ada kesalahan, ada ucapan “eee…” di rekaman. Itulah proses yang sesungguhnya. Intervensi kita harus minim banget.
- Fokus pada “Growth”, Bukan “Showcase”: Ajak anak diskusi, “Apa yang kamu pelajari dari proyek ini?” daripada “Ini hasilnya bagus nggak buat diupload?”.
- Buat Batasan Waktu yang Jelas: Tentukan sama-sama, “Kita akan luangkan 30 menit buat bikin rekaman presentasi ini, lalu selesai.” Jangan terjebak perfeksionisme. Ajarkan bahwa proses belajar itu yang penting, bukan hasil portofolio yang kinclong.
Kesalahan yang Bikin Sistem Baru Ini Jadi Bumerang:
- Membandingkan Portofolio Anak Kita dengan Anak Lain: Ini racun. Setiap anak punya jalurnya sendiri. Portofolio digital seharusnya jadi alat refleksi diri, bukan papan peringkat gaya baru.
- Menganggap Ini “Lebih Mudah” daripada Sistem Rapor: Nggak. Ini lebih kompleks. Butuh kedewasaan dari semua pihak—sekolah, orang tua, siswa—untuk nggak menyalahgunakannya. Anggap ini sebagai perubahan budaya, bukan cuma ganti teknologi.
- Mengejar Kuantitas Konten, Bukan Kualitas Proses: Memaksa anak mengisi 10 entri seminggu hanya agar portofolionya terlihat “penuh” adalah kekeliruan besar. Satu entri yang mendalam dan jujur jauh lebih berharga.
Jadi, apakah portofolio digital ini solusi ajaib? Nggak juga.
Dia punya potensi besar untuk membangun kepercayaan diri dengan cara yang lebih holistik. Tapi dia juga punya risiko besar menciptakan generasi yang terbiasa mengkurasi kehidupan mereka untuk dilihat orang lain, dan orang tua yang semakin anxious mengarahkan “narasi kesuksesan” anak sejak dini.
Intinya, rapor angka itu seperti foto paspor: kaku, tapi jelas batasannya. Portofolio digital itu seperti akun Instagram: penuh warna dan cerita, tapi rentan dikurasi, diperbandingkan, dan menciptakan tekanan untuk tampil ideal.
Kita nggak menghapus tekanan. Kita cuma mengganti bentuknya. Sekarang, tantangannya adalah: bisakah kita menggunakan alat baru ini dengan kebijaksanaan yang lebih tua? Untuk benar-benar melihat anak kita, bukan sekadar memamerkan mereka.