Pernah nggak sih, Bapak/Ibu ngerasa perjuangan masuk sekolah negeri itu kayak perang? Daftar sana sini, ngitung jarak rumah, berharap anak bisa masuk sekolah favorit, terus pas pengumuman… blank.
Di tahun 2026 ini, kemarahan orang tua murid soal Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) lagi memuncak, khususnya di Jawa Barat. Gubernur Dedi Mulyadi bahkan sampe turun tangan langsung dan ngakuin kesalahan pemerintah . “Hari ini apabila banyak orang tua marah karena anak-anaknya tidak terpetakan di sekolah negeri, bukan kesalahan orang tua, tetapi kesalahan kami sebagai penyelenggara negara,” ujarnya .
Pertanyaannya: bagaimana kita sebagai orang tua bisa menyikapi situasi ini? Siapa yang harus bertanggung jawab? Dan yang paling penting, apa yang bisa kita lakukan sekarang?
Apa Sih yang Sebenarnya Terjadi di SPMB 2026?
Aplikasi Dibangun dari Nol
Biang kerok utama masalah SPMB 2026 ternyata bukan regulasi, tapi masalah teknis aplikasi . Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa aplikasi SPMB tahun ini dibuat dari nol, bukan menyempurnakan sistem yang udah ada . Dan ini melanggar ketentuannya sendiri: aplikasi seharusnya dibuat oleh Diskominfo, bukan Dinas Teknis . Akibatnya? Website error, data pendaftar hilang, skor siswa berubah tiba-tiba .
Pemetaan Calon Murid yang Kacau
Proses Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) juga jadi masalah. Dedi mengeluh, proses pemetaan seharusnya dilakukan sebelum SPMB, tapi malah digelar bersamaan . Ini bikin banyak calon murid yang sebelumnya lulus Sekolah Maung harus bersaing lagi di jalur reguler . Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) sampe menyoroti dan melaporkan dugaan maladministrasi ke Ombudsman .
Daya Tampung Nggak Cukup
Ini masalah klasik. Di Jawa Barat, ada sekitar 444.000 siswa yang terpetakan dalam sistem, tapi sekitar 70.000 hingga 77.000 siswa belum dapat terakomodasi di sekolah negeri . Di Kota Semarang, dari 21.027 lulusan SD, hanya 15.366 kursi yang tersedia di SMP negeri dan swasta gratis . Di SMAN 12 Bandung, 2.480 calon murid rebutan 504 kursi .
Pejabat Dicopot
Dedi Mulyadi langsung mencopot Kepala UPTD Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Tikomdik) Disdik Jabar karena kelalaian ini . Pertanyaan Dedi yang viral: “Anda ngerti nggak bidang ini? Anda latar belakangnya apa? Siapa yang merekomendasikan anda di bidang ini?”
Kasus Nyata yang Bikin Orang Tua Pusing
1. Ibu-ibu Ngantri di Disdik Jabar
Ratusan orang tua murid mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Jabar untuk protes . Mereka kecewa karena anak-anaknya terancam nggak dapat kursi di sekolah negeri. Dedi Mulyadi sampe ngasih solusi: buat yang nggak mampu, biaya sekolah swasta digratiskan .
2. Siswa Lolos Sekolah Maung, Terpaksa Daftar Ulang
Program Sekolah Maung—sekolah unggulan Jabar—ternyata juga bermasalah. FSGI mencatat website error dan skor siswa yang berubah tanpa penjelasan . Siswa yang tadinya lolos harus daftar ulang di jalur reguler dan bersaing lagi .
3. Semarang: 5.600 Siswa Tak Tertampung
Di Kota Semarang, 21.027 lulusan SD harus berbagi 15.366 kursi SMP negeri dan swasta gratis . Artinya, hampir 5.600 anak harus mencari sekolah swasta berbayar . Dinas Pendidikan ngaku: sejak awal, nggak semua lulusan SD bisa masuk negeri .
Data yang Bikin Kita Sadar
- 70.000-77.000 siswa di Jabar tak terakomodasi di sekolah negeri
- 444.000 siswa terpetakan di sistem PCMB Jabar
- 2.480 calon murid rebutan 504 kursi di SMAN 12 Bandung
- Kuota SNPMB 2026 naik jadi 604.446 kursi, naik dari 595.558 di 2025
Peta Jalan bagi Orang Tua yang Terjepit
1. Prioritaskan Sekolah Swasta
Dedi Mulyadi menyarankan siswa yang nggak lolos ke sekolah negeri untuk mendaftar ke sekolah swasta . Pemprov Jabar menjamin biaya pendidikan gratis bagi yang tidak mampu, dengan skema Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) maksimal Rp1,5 juta dan SPP maksimal Rp100.000 per bulan . Tapi ingat, bantuan ini baru simbolis dan belum terealisasi nyata .
2. Cek Kuota dan Syarat dengan Teliti
Setiap sekolah negeri punya kuota masing-masing. Di Balikpapan, misalnya, SMA Negeri 1 punya kuota 480 siswa . Cek detail kuota dan jalur (domisili, prestasi, afirmasi, mutasi) sebelum daftar .
3. Pahami Nilai Gabungan
Di DIY, SPMB 2026 menggunakan nilai gabungan (60% tes akademik + 40% nilai rapor) . Ini berbeda dari sistem lama yang cuma pake nilai ASPD. Pastikan anak Bapak/Ibu siap dengan sistem ini.
4. Jangan Takut Lapor Kecurangan
Dedi Mulyadi meminta masyarakat nggak ragu melapor kalau nemu dugaan jual beli kursi atau kecurangan . Lapor dengan data jelas, dan pasti ditindaklanjuti.
5. Ikuti Evaluasi dan Perubahan
Dedi berjanji akan mengevaluasi aplikasi SPMB secara menyeluruh . Ikuti perkembangannya, mungkin ada perubahan kuota atau kebijakan di tahap selanjutnya.
Kesalahan Umum yang Sering Dilakuin Orang Tua
- Cuma Fokus ke Sekolah Favorit – Banyak yang cuma daftar ke satu sekolah negeri favorit, padahal persaingan super ketat.
- Nggak Paham Jalur dan Kuota – Setiap jalur punya kuota beda. Jalur afirmasi buat yang kurang mampu, jalur prestasi buat yang berprestasi, dan jalur domisili buat yang tinggal dekat .
- Terlambat Daftar – Pendaftaran SPMB 2026 udah dimulai . Jangan sampe kehabisan.
- Nganggap Swasta Itu Buruk – Sekolah swasta juga bisa berkualitas. Apalagi kalo biayanya digratiskan sama pemerintah, kenapa nggak?
Penutup: Ini Bukan Cuma Salah Orang Tua
Kemarahan orang tua soal SPMB 2026 adalah cerminan dari masalah yang lebih besar: keterbatasan pemerintah dalam menyediakan pendidikan negeri yang cukup dan berkualitas .
Seperti yang diakui Dedi Mulyadi: “Kami belum bisa menyiapkan sekolah negeri bagi seluruh rakyat, guru negeri bagi seluruh rakyat. Itu kesalahannya” .
Yang bisa kita lakukan sekarang adalah:
- Tetap tenang dan cari alternatif
- Manfaatkan bantuan pendidikan yang tersedia
- Pantau evaluasi dan perubahan kebijakan
- Laporkan kecurangan jika ditemukan
Yuk diskusi! Bapak/Ibu punya pengalaman soal SPMB 2026? Atau mungkin punya tips buat orang tua lain? Share di kolom komentar!